This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

www.barisan-kebangkitan.blogspot.com

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Ku Temukan Kau di Sujud dan Do'a Ku

“Dunia ini perhiasan. Dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah. ”(Hadits riwayat Muslim).

kecantikan wanita ada pada akhlaknya

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Ku Tunggu Kau Di Syurga

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Rabu, 27 Juni 2012

Wahai Muslimah… Apa Lagi Yang Engkau Ragukan…?

Ketahuilah wahai para wanita muslimah, bahwa yang mem-bedakan antara manusia dengan hewan adalah faktor pakaian dan alat-alat perhiasan. AllahSubhanahu Wata’ala berfirman:
Yang artinya : “Hai anak Adam, Sesungguhnya kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan dan pakaian takwa itulah yang paling baik.” [Qs. al-A'raaf 26]
Pakaian dan perhiasan itu adalah dua aspek kemajuan dan per-adaban. Meninggalkan keduanya berarti kembali kepada kehidupan primitif yang mendekati kepada kehidupan hewani. Sedang hak milik wanita yang paling utama adalah kemuliaan, rasa malu, dan kehormatan diri. [Lihat Fiqhus Sunnah 2/209 oleh Sayyid Sabiq].
Pakaian dalam Islam bukanlah hanya sekedar hiasan yang menempel di tubuh, tetapi pakaian yang menutup aurat. Dengannya Islam mewajibkan setiap wanita dan pria menutupi anggota tubuhnya yang menarik perhatian lawan jenisnya.
Masalah berhijab (yaitu berbusana muslimah yang menutupi seluruh bagian tubuh dari kepala hingga telapak kaki) bagi wanita muslimah bukanlah masalah sepele lagi sederhana sebagaimana yang banyak disangkakan oleh masyarakat awam, melainkan masalah besar dan substansial dalam agama ini.
Ber-hijab (berjilbab) bukanlah sisa peninggalan adat atau kebiasaan wanita Arab, sehingga wanita non-Arab(wanita Indonesia) tidak perlu menirunya, begitu juga ia bukanlah masalah khilafiah, diperselisihkan ada tidaknya berhijab itu sehingga wanita muslimah bebas mengenakannya atau tidak, tetapi hijab adalah suatu hukum yang tegas dan pasti yang seluruh wanita muslimah diwajibkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala  untuk mengenakannya.
Allah  berfirman :
Yang artinya : “Hai nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, Karena itu mereka tidak diganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Qs. al-Ahzab : 59].
Allah  berfirman :
Yang artinya: ‘Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, ….’ [Qs. an-Nûr : 31].
Dua ayat di atas telah memberikan batasan yang  jelas tentang pakaian yang harus dikenakanoleh wanita muslimah, yaitu wajib menutup seluruh tubuhnya kecuali apa yang dikecuali oleh syariat (yang dimaksud dalam hal ini adalah wajah dan dua telapak tangan dan ini diperselisihkan oleh ulama). Ketetapan syari’at ini tidak lain adalah untuk melindungi, menjaga, serta membentengi wanita dari laki-laki yang bukan mahramnya.
BERHIJAB ADALAH IBADAH
Ber-hijab adalah ibadah, dengan ber-hijab berarti sang wanita telah telah melaksanakan perintah AllahSubhanahu Wata’ala. Melaksanakan perintah ber-hijab sama dengan melaksanakan perintah shalat dan puasa.
Barangsiapa yang mengingkari kewajiban ber-hijab dengan secara menentang berarti mengkufuri perintah  Allah Subhanahu Wata’ala yang dapat dikategorikan sebagai murtad dari Islam. Tetapi jika ia tidak ber-hijablantaran semata-mata mengikuti situasi masyarakat yang telah rusak – dengan tetap yakin akan wajibnya – maka ia dianggap sebagai wanita yang mendurhakai dan menyalahi perintah Allah Subhanahu Wata’alayang telah berfirman dalam al-Qur’an :
Yang artinya : ‘…. dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu …’ [Qs. al-Ahzab : 33].
BELUM MANTAP BERHIJAB
Karena ber-hijab adalah kewajiban dari Allah Subhanahu Wata’ala, maka tidak dibenarkan seorang wanita muslimah menyatakan dirinya tidak mantap atau belum siap ber-hijab. Karena sikap ini berarti mengambil sebagian perintah Allah Subhanahu Wata’ala dan mencampakkan yang lainnya. Padahal Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :
Yang artinya : “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya. Maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” [Qs.Al-Ahzab: 36]
KESIMPULAN
1. Ber-hijab (berjilbab) itu wajib bagi seluruh wanita muslimah.
2. Ber-hijab yang memenuhi syarat adalah apabila hijab tersebut menutupi seluruh tubuh melainkan kecuali apa yang dikecuali oleh syariat (dan akan datang penjelasan secara lengkap tentang busana muslimah yang sesuai dengan agama)

.:: Mereka Yang Mulia Dan Yang di Laknat ::.

Sejarah telah mencatat beberapa nama wanita terpandang yang di antara mereka ada yang dimuliakan Allah dengan surga, dan di antara mereka ada pula yang dihinakan Allah dengan neraka. Karena keterbatasan tempat, tidak semua figur bisa dihadirkan saat ini, namun mudah-mudahan apa yang sedikit ini bisa menjadi ibrah (pelajaran) bagi kita.
.:: Wanita Yang Beriman
Sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam :
 “Seutama-utama wanita ahli surga adalah Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, Maryam binti Imran dan Asiyah binti Muzahim.” (HR. Ahmad)
1.      Khadijah binti Khuwailid
 Dia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang terhormat sehingga mendapat tempaan akhlak yang mulia, sifat yang tegas, penalaran yang tinggi, dan mampu menghindari hal-hal yang tidak terpuji sehingga kaumnya pada masa jahiliyah menyebutnya dengan ath thahirah (wanita yang suci).
Dia merupakan orang pertama yang menyambut seruan iman yang dibawa Muhammad tanpa banyak membantah dan berdebat, bahkan ia tetap membenarkan, menghibur, dan membela Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di saat semua orang mendustakan dan mengucilkan beliau. Khadijah telah mengorbankan seluruh hidupnya, jiwa dan hartanya untuk kepentingan dakwah di jalan Allah. Ia rela melepaskan kedudukannya yang terhormat di kalangan bangsanya dan ikut merasakan embargo yang dikenakan pada keluarganya.
Pribadinya yang tenang membuatnya tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan mengikuti kebanyakan pendapat penduduk negerinya yang menganggap Muhammad sebagai orang yang telah merusak tatanan dan tradisi luhur bangsanya. Karena keteguhan hati dan keistiqomahannya dalam beriman inilah Allah berkenan menitip salamNya lewat Jibril untuk Khadijah dan menyiapkan sebuah rumah baginya di surga.
Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah, ia berkata :
Jibril datang kepada Nabi kemudian berkata: “Wahai Rasulullah, ini Khadijah datang membawa bejana berisi lauk pauk, makanan dan minuman. Maka jika ia telah tiba, sampaikan salam untuknya dari Rabbnya dan dari aku, dan sampaikan kabar gembira untuknya dengan sebuah rumah dari mutiara di surga, tidak ada keributan di dalamnya dan tidak pula ada kepayahan.” (HR. Al-Bukhari).
Besarnya keimanan Khadijah pada risalah nubuwah, dan kemuliaan akhlaknya sangat membekas di hati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga beliau selalu menyebut-nyebut kebaikannya walaupun Khadijah telah wafat. Diriwayatkan dari Aisyah, beliau berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallamhampir tidak pernah keluar dari rumah sehingga beliau menyebut-nyebut kebaikan tentang Khadijah dan memuji-mujinya setiap hari sehingga aku menjadi cemburu maka aku berkata: Bukankah ia seorang wanita tua yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah meng-gantikannya dengan yang lebih baik untuk engkau? Maka beliau marah sampai berkerut dahinya kemudian bersabda: Tidak! Demi Allah, Allah tidak memberiku ganti yang lebih baik darinya. Sungguh ia telah beriman di saat manusia mendustakanku, dan menolongku dengan harta di saat manusia menjauhiku, dan dengannya Allah mengaruniakan anak padaku dan tidak dengan wanita (istri) yang lain. Aisyah berkata: Maka aku berjanji untuk tidak menjelek-jelekkannya selama-lamanya.”
2. Fatimah
Dia adalah belahan jiwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, putri terpandang dan mantap agamanya, istri dari laki-laki ahli syurga yaitu ‘Ali bin Abi Thalib.
 Dalam shahih Muslim menurut syarah An Nawawi, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: “Fathimah merupakan belahan diriku. Siapa yang menyakitinya, berarti menyakitiku.”
Dia rela hidup dalam kefakiran untuk mengecap manisnya iman bersama ayah dan suami tercinta. Dia korbankan segala apa yang dia miliki demi membantu menegakkan agama suami.
Fathimah adalah wanita yang penyabar, taat beragama, baik perangainya, cepat puas dan suka bersyukur.

3. Maryam binti Imran
Beliau merupakan figur wanita yang menjaga kehormatan dirinya dan ta’at beribadah kepada Rabbnya. Beliau rela mengorbankan masa remajanya untuk bermunajat mendekatkan diri pada Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga Allah memberinya hadiah istimewa berupa kelahiran seorang Nabi dari rahimnya tanpa bapak.

4. Asiyah binti Muzahim
Beliau adalah istri dari seorang penguasa yang dzalim yaitu Fir’aun Laknatullah ‘alaih. Akibat dari keimanan Asiyah kepada kerasulan Musa, ia harus rela menerima siksaan pedih dari suaminya. Betapapun besar kecintaan dan kepatuhannya pada suami ternyata di hatinya masih tersedia tempat tertinggi yang ia isi dengan cinta pada Allah dan RasulNya. Surga menjadi tujuan akhirnya sehingga kesulitan dan kepedihan yang ia rasakan di dunia sebagai akibat meninggalkan kemewahan hidup, budaya dan tradisi leluhur yang menyelisihi syariat Allah ia telan begitu saja bak pil kina demi kesenangan abadi. Akhirnya Asiyah meninggal dalam keadaan tersenyum dalam siksaan pengikut Fir’aun.
Dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad Shallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :
 “Fir’aun memukulkan kedua tangan dan kakinya (Asiyah) dalam keadaan terikat. Maka ketika mereka (Fir’aun dan pengikutnya) meninggalkan Asiyah, malaikat menaunginya lalu ia berkata: Ya Rabb bangunkan sebuah rumah bagiku di sisimu dalam surga. Maka Allah perlihatkan rumah yang telah disediakan untuknya di surga sebelum meninggal.”
.:: Wanita yang durhaka
 1.  Istri Nabi Nuh ‘Alaihi Salam dan Istri Nabi Luth ‘Alaihi Salam
Mereka merupakan figur dua orang istri dari para kekasih Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tidak sempat merasakan manisnya iman. Hatinya lebih condong kepada apa yang diikuti oleh orang banyak daripada kebenaran yang dibawa oleh suaminya. Mereka justru membela kepentingan kaumnya karena tidak ingin dimusuhi dan dibenci oleh orang-orang yang selama ini mencintai dan menghormati dirinya. Maka kesenangan sesaat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala gantikan dengan kebinasaan yang didapat bersama kaumnya. Istri Nabi Nuh ikut tenggelam oleh banjir besar bersama kaumnya yang menyekutukan Allah dengan menyembah patung-patung orang shalih, sedangkan istri Nabi Luth ditelan bumi karena adzab AllahSubhanahu wa Ta’al atas kaumnya yang melakukan liwath (homoseksual).
Semua cerita ini telah Allah Subhanahu wa Ta’ala rangkum dalam sebuah firmanNya yang indah dalam suratAt-Tahrim ayat 10-12, yang artinya: “Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang shalih di antara hamba-hamba Kami, lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah: dan dikatakan (kepada keduanya) : Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka). Dan Allah membuat istri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisimu dalam Surga. Dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang dhalim. Dan Maryam puteri Imran yang memelihara kehor-matannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan kitab-kitabnya dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat.”
Semoga kisah para wanita ini bisa menjadi pelajaran bagi para wanita zaman ini untuk berkaca diri, Termasuk pada golongan manakah wanita muslimah dewasa ini ? Apakah golongan yang dicintai Allah atau yang dimurkaiNya?
Bagi wanita yang belum berumah tangga, saat ini merupakan kesempatan besar baginya untuk memperbanyak amalan shalih dan mendekatkan diri pada Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukannya justru menghabiskan masa mudanya dengan hura-hura dan kegiatan lain yang tidak bermanfaat. Dan bagi mereka yang sudah berumah tangga, selain menjaga keistiqomahannya dalam berIslam dia juga diberi beban tambahan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk membantu suami menjalankan agamanya. Istri yang demikian meru-pakan harta yang paling berharga.
Dari kisah mereka, kita juga bisa mengambil pelajaran bahwa dalam keadaan bagaimanapun, hendaknya ketundukan kepada syariat Allah dan RasulNya harus tetap di atas segala-galanya. Asalkan berada di atas kebenaran, kita tidak perlu takut dibenci oleh masyrakat, sahabat, maupun orang yang paling istimewa di hati kita. Justru kewajiban kita adalah menunjukkan yang benar kepada mereka. Dengan begitu kita akan mendapatkan cinta sejati .. cinta Allah Rabbul ‘alamin.
Mudah-mudahan kita selalu diberi keistiqomahan untuk menapaki dan mengamalkan syariat yang haq (benar) walaupun kita seorang diri. Amin.//

Senin, 25 Juni 2012

BANTULAH SUAMIMU DI JALAN ALLOH TA'ALA......


Sungguh menakjubkan keadaan seorang wanita yang merasakan kebahagiaannya terletak pada upaya beribadah kepada Allah Subhanahu Wata’aladan membahagiakan suaminya.
“ Hendaklah salah seorang diantara kalian menjadikan hatinya bersyukur (kepada Allah) dan mengambil istri yang beriman yang dapat membantu kepentingan akhiratnya.” (HR. Ibnu Majah, Tirmizi, dan Ahmad).
Maksud hadits tersebut adalah agar setiap Muslim hatinya penuh syukur kepada Allah, lisannya selalu penuh ucapan nama Allah, dan memilih istri yang beriman agar membantunya dalam beragama dengan baik.
Yang dimaksud dengan hati yang selalu bersyukur adalah hati yang tidak pernah menyesali hal buruk yang menimpanya atau tidak cepat berputus-asa dalam menghadapi cobaan dari Allah Subhanahu Wata’ala.Sebaliknya, ia selalu dekat kepada Allah walaupun hidup dalam berbagai kesulitan. Lisannya selalu menyebut nama Allah, maksudnya selalu ingat Allah dalam keadaan susah atau-pun senang, dalam keadaan kaya atau-pun miskin, dalam keadaan sendiri atau-pun di tengah-tengah orang banyak. Adapun memilih istri yang beriman adalah memilih istri yang beragama dan berakhlak baik agar bisa membantu dirinya melaksanakan perintah-perintah agama, sehingga kelak berbahagia dan selamat di akhirat.
Sahabat mu’minah, berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di atas kami berpesan kepadamu. Bantulah suamimu di jalan Allah Subhanahu Wata’ala sebagai seorang istri. Anti harus selalu memperhatikan tanggungjawab untuk melaksanakan shalat wajib, mengeluarkan zakt, melaksankan puasa Rhamadhan, menunaikan haji bila telah mampu, dan ibadah yang lainnya. Suami tidak boleh dibiarkan lalai mengerjakan kewajiban-kewajiban pokok tersebut karena tuntutan kesibukan. Anti harus menyadari banyak suami lupa akan kewajibannya menjalankan perintah agama karena godaan dunia.
Alangkah indahnya gambaran yang di sebutkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tentang sepasang suami istri yang saling membantu dalam keta’atan. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhubahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “ Semoga Allah merahmati seorang laki-laki yang berdiri di waktu malam untuk shalat, lalu di bangunkan istrinya untuk shalat, jika dia enggan maka dia percikan air di wajahnya. Semoga Allah juga merahmati seorang istri yang bangun malam untuk shalat, lalu dia membangunkan suaminya untuk shalat, jika dia enggan, maka sang istri memercikan air di wajah suaminya.” (HR. Abu Dawud)
Anti tidak perlu merasa kecil hati sebagai istri untuk mengingatkan kesalahan dan pelanggaran-pelanggaran suami atas norma-norma agama, kiranya kita dapat belajar dari sejarah kehidupan para istri yang beriman kepada Allah. Hendaklah kita dapat mengikuti jejak Asyiah, meskipun suaminya Fir’aun bebuat dzalim dan mengaku dirinya sebagai tuhan, ia terang-terangan menunjukan keimanannya. Dengan penuh keberanian Asyiah mengingatkan Fir’aun bahwa tuhan yang sebenarnya adalah tuhan yang menciptakan langit dan bumi serta manusia. Tidak sepaerti dirinya yang tidak dapat menciptakan apa-apa. Ia-pun mengingatkan suaminya bahwa Allah-lah yang berhak di sembah serta di patuhi perintah dan larangan-Nya, sedangkan manusia tidak ada yang berhak di sembah dan di patuhi segala kemauannya  seperti yang Fir’aun inginkan. Kaum istri perlu menyadari bahwa dengan membiarkan suami terkungkung dalam kesesatan dapat menjadikan jiwa mereka tertekan, hingga akhirnya tidak mampu berbuat apa-apa dengan membiarkan dosa-dosa yang terjadi.